Howl

Diposting secara otomatis dari milis psikologi transformatif.

Sunday, September 21, 2008

[psikologi_transformatif] Antara "Goal Setting" dan "Law of Attraction"


Was:
"Bukan mengajarkan bahwa "memikirkan" adalah satu2nya jalan mendapatkan dan nggak perlu usaha."

AHA:
Ini yang saya maksud pada tnggapan saya untuk bung harez, process logis (termasuk usaha bahkan seringkali keras) adalah "keniscayaan" dari afirmasi…

Harez:

Mas Anwar, dalam konseling/terapi/pelatihan psikologis, dikenal adanya "goal setting" sebagai "arah" dari usaha memperbaiki/mengembangkan diri. Usahanya dapat berupa "set then ngotot" maupun "set and forget" tergantung situasi dan kondisinya, bukan hanya "set and forget" sebagaimana yang Mas kemukakan di:

http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/45996

"Set and ngotot" dalam bayangan saya, lebih sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan yang bersifat "positif", sedangkan "set and forget" lebih sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan yang terbuka untuk dipengaruhi "nafsu" (relatively negative).

Jujur saja Mas, sampai saat ini, saya lebih melihat bahwa "goal setting" dan usaha adalah hal-hal yang lebih berpengaruh dalam mencapai "tujuan/keinginan" seseorang, ketimbang "apa anda yang pikirkan akan anda dapatkan" ala law of attraction.

Kasus Kapten Umang yang sempat saya singgung di posting saya untuk Lulu ( http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/45934 ), dapat juga dijadikan kasus untuk mengkaji "law of attraction" ini.

Kalau di milis psi Indonesia, demikian pernyataan yang saya buat"

Terlepas dari itu, dalam kaitannya dengan disiplin ilmu kita psikologi, setidaknya ada 2 hal yang cukup menarik untuk direnungkan:

1. Bagaimana kaitan antara "law of attraction" dengan kesehatan jiwa? (Bukankah "Kapten" Umang yang mengatur lalu lintas bak seorang Polisi padahal dia adalah "polisi jadi-jadian" adalah seseorang yang memiliki ambisi dan obsesi menjadi "polisi" yang tidak kesampaian?

2. Jika ada "law of attraction" dan "law of distraction", maka apakah dapat dikatakan bahwa yang sebenarnya lebih berpengaruh adalah "goal setting" dan usaha untuk mencapainya, sebagaimana pendekatan yang kita kenal dalam konseling/terapi/pelatihan psikologis, ketimbang "imajinasi" ala "law of attraction"?

Sumber: http://health.groups.yahoo.com/group/psiindonesia/message/7321

Kasus Kapten Umang menunjukkan bahwa penerapan "law of attraction" dapat berakibat terganggunya "kesehatan jiwa" seseorang, terutama karena gagal untuk memperoleh apa yang diinginkan dan dipikirkannya. Gagal memperoleh secara riil, keinginan tersebut terus dipikirkan, jadilah 'dunia fantasi" untuk memperolehnya. Hal ini memang terjadi ketika dipilih usaha dalam bentuk "Set then Ngotot".

"Set and forget" sebagaimana mas kemukakan memang dapat dipergunakan sebagai alternatif usaha, namun sejauh pemahaman saya, "law of attraction" lebih didominasi oleh pola "set then ngotot".


Was:
"Makanya saya pikir tidak ada yang baru dalam The Secret ini. Selain mirip2 sama sinkronitas, mirip juga dengan Self-fulfilling Prophecy :) Barang lama dengan kemasan baru aja..."

AHA:
Betul sekali mbak…namun sayangnya sebagian besar hanya puas pada tahap "tahu" tanpa "laku" dan melewatkan begitu saja penge-"tahu"-an ini

Harez:

Apakah yang Mas Anwar maksudkan dengan "laku" dalam hal ini? Adakah kaitannya dengan "linuwih" atau hal-hal supranatural lainnya.

Mohon penjelasan, terima kasih sebelumnya. :-)

salam,
harez





2008/9/20 anwarsby <anwarsby1@yahoo.co.id>

Nimbrung ya…

 

Was:

"Bukan mengajarkan bahwa "memikirkan" adalah satu2nya jalan mendapatkan dan nggak perlu usaha."

 

AHA:

Ini yang saya maksud pada tnggapan saya untuk bung harez, process logis (termasuk usaha bahkan seringkali keras) adalah "keniscayaan" dari afirmasi…

 

 

Was:

"Makanya saya pikir tidak ada yang baru dalam The Secret ini. Selain mirip2 sama sinkronitas, mirip juga dengan Self-fulfilling Prophecy :) Barang lama dengan kemasan baru aja..."

 

AHA:

Betul sekali mbak…namun sayangnya sebagian besar hanya puas pada tahap "tahu" tanpa "laku" dan melewatkan begitu saja penge-"tahu"-an ini

 

Salam,

Anwar

 


From: psikologi_transformatif@yahoogroups.com [mailto:psikologi_transformatif@yahoogroups.com] On Behalf Of was_swas
Sent: Saturday, September 20, 2008 7:57 AM


To: psikologi_transformatif@yahoogroups.com
Subject: [psikologi_transformatif] Re: Law of Attraction atau Law of Distraction (Terakhir)

 


--- In psikologi_transformatif@yahoogroups.com, Howl <smilingwizard@...> wrote:
>
> Lha, kalok cuman menginginkan doang, ya ndak akan kesampaian.
> That is precisely the point. Untuk mencapai sesuatu, ya perlu usaha, dong.
>
> h

Lha, memang iya :) Yang bilang lantas nggak perlu usaha siapa? Hehehe.... Saya sih nggak khatam baca The Secret, tapi sepenangkapan saya sih buku itu juga cuma menekankan pada "bisa" :) Bukan mengajarkan bahwa "memikirkan" adalah satu2nya jalan mendapatkan dan nggak perlu usaha.

Makanya saya pikir tidak ada yang baru dalam The Secret ini. Selain mirip2 sama sinkronitas, mirip juga dengan Self-fulfilling Prophecy :) Barang lama dengan kemasan baru aja... hehehe... Makanya saya takjub kalau sekarang orang2 banyak "mendadak [sok] bijak" seolah2 The Secret ini membuka pintu misteri yang luar biasa ;)

*Psst... ngomong2, beberapa waktu lalu teman saya nulis di Facebook sebuah tulisan bagus berjudul: "There is No Secret in 'The Secret'"... :) Ntar aku tanya boleh di-link ke sini nggak :)*



__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home